NaZMa Office - Hyper reality menjadi istilah yang muncul seiring dengan meningkatnya penggunaan teknologi. Kata sifat ini merujuk pada perubahan cara pandang seseorang terhadap kenyataan.
Hyper reality merupakan konsep mengenai penciptaan kenyataan melalui model konseptual atau hal yang berhubungan dengan mitos, artinya mengandung sesuatu yang tidak dapat dilihat kebenarannya (Himawati dkk, 2022). Berkembangnya teknologi dan meningkatnya pengguna sosial media membuat banyak orang menjadi terbuka atas berbagai informasi. Banyaknya informasi yang masuk, mampu memengaruhi pola pikir kita. Pada titik itulah hyper reality bekerja dalam diri seseorang.
Hyper reality dapat memberikan dampak buruk bagi seseorang, khususnya pada penggunaan teknologi seperti media sosial Instagram. Salah satu ciri seseorang terkena hyper reality pada sosial media adalah kesenangan ketika memperoleh likes banyak. Hyper reality mampu memberi dampak besar secara psikologi seseorang. Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan guna mengurangi dampak hyper reality pada diri.
Pertama, ketergantungan dan isolasi sosial
Pemakaian media sosial yang berlebihan mampu memberikan jarak terhadap seseorang dengan orang lain disekitarnya. Hal itu dikarenakan seseorang yang telah terbiasa menggunakan sosial media akan merasa aneh apabila dirinya dijauhkan dengan kebiasaan tersebut. Intensitas yang tinggi terhadap penggunaan media sosial mampu membatasi aktivitas dan interaksi seseorang dengan lingkungannya, sehingga mengakibatkan isolasi sosial dan penurunan keterampilan dalam berkomunikasi secara interpersonal.
Kedua, penurunan kesehatan mental
Orang yang hyper reality terindikasi mengalami penurunan kesehatan mental, karena pola pikirnya akan menghasilkan tekanan psikologis secara signifikan. Hal ini merujuk pada rasa cemas, depresi, atau stres yang muncul karena adanya ketidaksesuaian antara realitas dan fantasi yang telah tercipta sebelumnya.
Ketiga, keselamatan dan keamanan
Terlalu fokus pada dunia maya membuat aktivitas nyata seseorang menjadi terganggu. Hal itu dikarenakan seseorang akan sangat fokus dengan gawai tanpa memperhatikan lingkungan sekitar, tak terkecuali saat berjalan atau menyebrang jalan. Kesibukan orang dengan gawainya dapat dengan mudah kita temukan di tempat keramaian seperti bandara. Ketika seseorang terlalu terfokus pada gawai dan dunia maya, mereka akan secara tidak sadar kurang waspada terhadap bahaya di sekitar mereka.

Perkembangan teknologi dan ketersediaan akses internet memang memberikan keuntungan besar dalam mengakses informasi. Namun, sebagai generasi muda yang cerdas, penting bagi kita untuk mengatur diri agar tidak terjebak dalam hal-hal yang seharusnya dapat kita manfaatkan. Melakukan pembatasan dan pengendalian diri memungkinkan kita untuk tetap hidup secara seimbang antara dunia virtual dan nyata.
Hindari kehilangan kemampuan untuk bersikap empati dan simpati karena terpaku terlalu dalam dalam lingkungan virtual!
Jika merasa artikel ini bermanfaat, mari bantu sebarkan ke teman-teman Anda. Jangan lupa share artikel ini ya!
Referensi:
Himawati, U., Azizah, N., Imron, A. (2022). Hipperealitas sebagai simbol dakwah santri millenial masa pandemi covid-19. Journal of Education Research, 3(3), 119-124.