NaZMa Office - Teknologi yang berkembang secara pesat memberikan kemudahan dalam mengakses segala sesuatu, sehingga dinilai sebagai aspek yang memanjakan penggunanya. Akan tetapi, tanpa disadari hal ini menjadi tantangan sekaligus peluang dalam memahami berbagai informasi yang tersedia.
Transformasi digital yang baik tentu harus memiliki kesiapan yang matang, terutama pada sumber daya manusia. Artinya transformasi digital yang sukses membutuhkan organisasi dan para pelaku dengan tingkat literasi digital yang baik, sehingga mampu mengembangkan berbagai kemampuan sesuai dengan konteks bisnis dan kebutuhan (Reis dkk, 2018). Hal inilah yang disebut sebagai tantangan dan peluang dalam era digital, yakni literasi dari masing-masing pengguna.
Berikut adalah laporan Status Literasi Digital di Indonesia 2023, hasil survei kolaborasi Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bersama Katadata Insight Center (KIC) dalam satuan skala poin 1-5.
Melalui angka indeks literasi di atas, kita dapat merefleksikan apa yang perlu diperbaiki dan dipelajari untuk dapat meningkatkan angka indeks tersebut ke depannya. Indikator tantangan dan peluang dalam literasi digital terdiri dari berbagai aspek, diantaranya sebagai berikut.
Pertama, Digital Skills
Digital skills atau kemampuan digital merujuk pada kemampuan seseorang untuk menggunakan teknologi digital dengan efektif dan produktif. Hal ini termasuk dalam penggunaan perangkat keras dan perangkat lunak, navigasi internet, penggunaan aplikasi produktivitas seperti pengolahan kata, serta pemahaman tentang pengunduhan data.
Kedua, Digital Safety
Digital safety atau keamanan digital mencakup praktik dan tindakan untuk melindungi informasi pribadi dan keamanan online dari ancaman seperti peretas (hacker), penipuan daring, hingga pencurian identitas. Aspek ini juga melibatkan kesadaran tentang risiko berbagi informasi melalui internet.
Ketiga, Digital Ethics
Digital ethics atau etika digital merupakan pertimbangan moral dan prinsip yang terkait dengan penggunaan teknologi digital. Hal ini termasuk pertanyaan tentang privasi online, keadilan dalam distribusi informasi, serta tanggung jawab dalam penggunaan media sosial. Penyebaran informasi tanpa izin maupun berita bersifat bohong juga menjadi salah satu pertimbangan dalam etika digital.
Keempat, Digital Culture
Digital culture atau budaya digital merujuk pada norma, nilai, praktik, dan kebiasaan yang berkembang di dalam komunitas yang menggunakan teknologi digital. Aspek ini juga mencakup cara-cara komunikasi, interaksi sosial, serta produksi dan konsumsi konten digital. Budaya digital juga mencakup fenomena seperti candaan di internet, tren viral, dan lain sebagainya.
Hingga saat ini, telah banyak platform yang menyediakan berbagai pembelajaran agar mampu meningkatkan literasi digital di Indonesia. Salah satunya adalah NaZMalogy yang telah mendukung berbagai topik pembelajaran relevan terhadap digitalisasi. Upaya dalam mempertimbangkan keempat aspek di atas diharapkan mampu meningkatkan nilai indeks literasi digital Indonesia yang semakin baik. Dengan demikian, transformasi digital pula dapat terealisasikan secara sukses karena diiringi oleh sumber daya manusia yang memadai.
Jika merasa artikel ini bermanfaat, mari bantu sebarkan ke teman-teman Anda. Jangan lupa share artikel ini ya!
Referensi:
Muhamad, N. (2023, Desember 14). Indeks literasi digital indonesia terus meningkat sampai 2023. Databoks. Diakses dari https://databoks.katadata.co.id/datapublish/preview/2023/12/14/indeks-literasi-digital-indonesia-terus-meningkat-sampai-2023
NaZMalogy (2024). Beranda nazmalogy. NaZMalogy. Diakses dari https://nazmalogy.nazmaoffice.com/
Reis, J., Amorim, M., Melão, N., & Matos, P. (2018). Digital transformation: A literature review and duidelines for future research bt - Trends and advances in information systems and technologies (Á. Rocha, H. Adeli, L. P. Reis, & S. Costanzo (eds.); pp. 411–421). Springer International Publishing.